TUBORASI, Inovasi Guru SDN Sowa untuk Numerasi Siswa

Diterbitkan pada | Rabu, 28 Oktober 2026

TUBORASI (Tutup Botol Numerasi) adalah alat bantu numerasi yang dikembangkan guru SDN Sowa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Inovasi guru ini lahir dari pendampingan Program Sekolah Aman di Kabupaten Bima yang dijalankan YAPPIKA-ActionAid bersama Yayasan YISA Ambalawi Mbojo.

Di tengah capaian numerasi murid SD yang turun secara nasional, cerita dari SDN Sowa menunjukkan bahwa inovasi guru bisa tumbuh dari kebutuhan kelasnya sendiri.

Hafni, Community Organizer Program Sekolah Aman untuk wilayah Soromandi, menilai media belajar yang kreatif membantu siswa mengikuti pelajaran dengan lebih antusias.

Perlu diketahui, Program Sekolah Aman menyelenggarakan pelatihan guru untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan begitu, kreativitas dan inovasi guru muncul dari pengalamannya sendiri, dan menjawab masalah nyata yang mengemuka di lapangan.

Mengapa Numerasi Anak SD perlu Didukung Inovasi Guru?

Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia 2025, 59,45% murid SD umum mencapai kompetensi minimum numerasi, turun 10,13 poin dari 69,58% pada tahun 2024. Kompetensi minimum adalah kemampuan mendasar yang harus dimiliki semua murid agar bisa berkembang dan berkontribusi di masyarakat.

Peran guru tampak dalam cara Rapor Pendidikan menilai kualitas pembelajaran, yaitu kualitas interaksi guru dan murid serta pengelolaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik murid.

Pada SD umum, skor kualitas pembelajaran 2025 adalah 63,19 (kategori Baik), turun 1,67 dari 2024. Artinya, mutu belajar tidak hanya ditentukan materi, tetapi juga oleh cara guru membuat anak mengerti.

Karena itu, Program Sekolah Aman menjalankan pelatihan guru sebagai bagian dari hak anak atas guru yang berkualitas dan terlatih. Pelatihan ini membuka ruang bagi guru untuk menemukan cara mengajar yang cocok dengan kelas dan murid mereka sendiri. Di SDN Sowa, TUBORASI adalah salah satu hasilnya, dikembangkan guru setelah mengikuti pendampingan Program Sekolah Aman.

Hasilnya terlihat saat anak-anak mengerjakan soal ujian tengah semester. Menurut Rahmatullaili, guru kelas V sekaligus Ketua Komunitas Sekolah SDN Sowa, Di kelas V sekolah itu, anak-anak mengerjakan soal dengan antusias dan sebagian besar bisa terjawab dengan benar.

 

Bagaimana Inovasi Guru SDN Sowa Sampai pada TUBORASI?

Inovasi dari guru SDN Sowa ini tidak muncul dari ruang kosong. Rahmatullaili menjelaskan bahwa guru mulai menerapkan metode belajar yang lebih menarik setelah mengikuti pendampingan Program Sekolah Aman yang memberi pelatihan pada guru dan bimbingan pembelajaran agar kelas tidak monoton.

Pelatihan ini sejalan dengan prinsip Program Sekolah Aman, yaitu pelatihan guru yang tidak memaksakan satu cara mengajar yang dianggap lebih maju, melainkan membuka ruang bagi praktik alternatif yang tumbuh dari pengalaman guru sendiri.

Di Kabupaten Bima, capaian program mencatat 81 guru dilatih dan 29 di antaranya telah menjalankan inovasi kegiatan belajar-mengajar (KBM) literasi di kelas.

Apa Peran Komunitas Sekolah bagi Belajar Anak di SDN Sowa?

Komunitas Sekolah adalah kelompok warga sekolah yang dibentuk lewat Program Sekolah Aman. Di SDN Sowa, wali murid hingga perangkat desa ikut terlibat. Menurut Rahmatullaili, komunitas sekolah ini melakukan kegiatan belajar sekali seminggu, seperti belajar kelompok, belajar di pantai, serta kunjungan dari rumah ke rumah untuk mendorong kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Rahmatullaili menuturkan bahwa, sebelum pendampingan Program Sekolah Aman, sejumlah siswa mudah bosan dan jenuh. Selain itu, kemampuan literasi serta numerasi mereka pun belum berkembang dengan optimal. Kini, setelah pendampingan, sekolah mulai melihat perubahan pada minat dan keterlibatan siswa. Ia menyebut “anak-anak sudah sangat terbantu” sejak komunitas terbentuk.

Masih menurut Rahmatullaili, dukungan sarana seperti perbaikan perpustakaan, buku cerita dan dongeng, serta adanya sempoa juga turut menunjang kegiatan belajar-mengajar.

Mengapa Inovasi Guru Butuh Dukungan yang Berkelanjutan?

Rahmatullaili berharap kegiatan komunitas terus dipertahankan. Keberlanjutan program ini bergantung pada sarana belajar yang memadai. Media pembelajaran yang menarik, katanya, dibutuhkan agar siswa tetap bersemangat. Guru juga berharap TUBORASI terus digunakan dan dikembangkan.

Bagi YAPPIKA-ActionAid, ini soal hak. Siswa berhak atas guru yang terlatih dan sarana belajar yang layak. Di tahun 2026, Program Sekolah Aman menargetkan SDN Sowa dan SDI Sai mendapat dukungan buku bacaan dan alat peraga edukasi dari pemerintah, serta satu regulasi tingkat kabupaten yang mereplikasi praktik baik literasi Sekolah Aman.

Pada 7 Agustus 2025, telah dilakukan dialog terbuka di Kantor Bupati Kabupaten Bima yang melahirkan lima poin Komitmen Bersama yang ditandatangani, salah satunya membangun ekosistem pelatihan terpadu untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu TUBORASI?

TUBORASI adalah singkatan dari Tutup Botol Numerasi, media pembelajaran kreatif yang dikembangkan guru SDN Sowa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Tujuannya meningkatkan kemampuan numerasi siswa sekaligus menarik minat belajar. Media ini lahir melalui pendampingan Program Sekolah Aman yang dijalankan YAPPIKA-ActionAid bersama Yayasan YISA Ambalawi Mbojo.

Apa itu numerasi dan mengapa penting untuk anak SD?

Numerasi adalah kemampuan memakai konsep dan keterampilan matematika untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari. Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia Data 2025, 59,45% murid SD umum mencapai kompetensi minimum numerasi, turun 10,13 poin dari 2024. Karena itu, media belajar yang membuat anak antusias berhitung perlu terus dikembangkan.

Siapa yang mendampingi guru SDN Sowa mengembangkan inovasi ini?

Pendampingan dijalankan Yayasan YISA Ambalawi Mbojo bersama YAPPIKA-ActionAid melalui Program Sekolah Aman di Kabupaten Bima. Guru mengikuti pelatihan dan bimbingan pembelajaran, sementara Komunitas Sekolah SDN Sowa, yang melibatkan wali murid hingga perangkat desa, berkegiatan sekali seminggu untuk mendukung kemampuan membaca, menulis, dan berhitung siswa.

Mari Dukung Inovasi Guru di Bima

Di SDN Sowa, guru berharap TUBORASI terus dipakai, dan media belajar yang menarik tetap dibutuhkan agar semangat anak-anak bertahan. Perubahannya sedang berjalan: guru berlatih, Komunitas Sekolah berkumpul seminggu sekali, dan anak-anak menemukan cara yang lebih menyenangkan untuk berhitung.

YAPPIKA-ActionAid mendampingi delapan sekolah di Kabupaten Bima bersama Yayasan YISA Ambalawi Mbojo. Jadilah bagian dari langkah ini dengan memberikan donasi untuk dukung Program Sekolah Aman. Dengan begitu, Anda ikut mewujudkan inovasi guru-guru di Bima punya ruang untuk tumbuh.