Diterbitkan pada | Rabu, 09 Agustus 2023
Sejak tahun 2016, YAPPIKA-ActionAid menyelenggarakan program Sekolah Aman. Program ini bukan hanya tentang memperbaiki bangunan sekolah yang rapuh. Sebab, ada 4 pilar yang bergerak bersama di sana, yaitu infrastruktur yang kokoh, pembelajaran berkualitas, lingkungan sekolah yang sehat, serta pelayanan Pendidikan inklusif dan berkualitas. Dari salah satu pilar inilah, sebuah cerita tentang kemandirian pangan dimulai dari petak tanah sekolah.

Kebun Gizi Sekolah Aman
adalah inisiatif pemanfaatan lahan produktif di lingkungan sekolah untuk
menanam sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat secara organik. Program ini
mengintegrasikan edukasi pertanian berkelanjutan dengan upaya pemenuhan gizi optimal
bagi warga sekolah.
Dalam mengembangkan
inisiatif ini, YAPPIKA-ActionAid menerapkan Konsep K3, yaitu sebuah ekosistem
terpadu yang mengintegrasikan Kebun, Kandang, dan Kolam. Konsep ini
dirancang sebagai satu siklus hidup yang saling menghidupi:
Di tingkat tapak, K3
memotong rantai pengeluaran dapur keluarga komunitas sekolah sekaligus membuka
jalan bagi peningkatan kualitas gizi anak secara konsisten.

Kebun gizi di sekolah dikembangkan dengan budidaya tanaman kebun secara organik. Di sini, murid-murid tidak sekadar menjadi penonton, mereka dilibatkan dalam mengolah tanah, menyemai benih, merawat tanaman, hingga memanen hasil jerih payah mereka sendiri. Kebun ini menjelma menjadi laboratorium alam yang hidup, tempat anak-anak belajar tentang keanekaragaman hayati secara riil.
Kebun Gizi yang dikembangkan di area intervensi Program Sekolah Aman, baik secara komunal maupun individu.
Untuk menjaga keadilan dan keberlangsungan gerakan, hasil panen dari
pengelolaan komunal disepakati untuk dibagi menjadi tiga bagian yang setara:
Hingga catatan program ini
dihimpun, Kebun Gizi telah berjalan di 7 sekolah sasaran Program
Sekolah Aman dan terus mendapatkan komitmen replikasi dari Pemerintah Daerah di
Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Kabupaten Kupang. Namun, perlu
dipahami bahwa kebun gizi ini bukanlah langkah awal, melainkan bentuk
intervensi tingkat lanjut.
Sebelum benih ditanam, YAPPIKA-ActionAid terlebih dahulu membangun manusianya melalui pembentukan Komunitas Sekolah—sebuah forum yang menyatukan suara guru, orang tua, komite, tokoh adat, hingga pemerhati pendidikan di desa. Forum inilah yang dilatih kapasitasnya agar berani menyuarakan hak atas layanan pendidikan yang layak.
Langkah pemberdayaan warga sekolah ini senada dengan gerakan pemenuhan hak dasar di sektor kesehatan masyarakat. Anda dapat menengok bagaimana Program Desa Sehat bertumpu pada pilar pemberdayaan yang sama, di mana kemandirian pangan lokal dimulai dari kesadaran kolektif warga akar rumput.
Menanam sayur di sekolah mungkin tampak seperti langkah kecil di tengah rumitnya persoalan birokrasi pendidikan nasional. Namun, dari petak-petak tanah di Sumba dan Kupang inilah, sebuah alternatif nyata sedang diuji: bahwa sekolah yang tangguh, inklusif, dan sehat bisa dilahirkan dari gotong royong warganya sendiri.
Gerakan ini tidak boleh berhenti di tujuh sekolah. Masih banyak anak-anak di pelosok nusantara yang membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya kokoh menahan badai, tetapi juga mampu memberi mereka asupan nutrisi yang layak. Anda bisa mendukung keberlanjutan Program Sekolah Aman bersama YAPPIKA-ActionAid dengan berdonasi di sini.
Ditulis oleh Rokhmad Munawir, Gender Responsive Inclusive Public Service (GRIPS) Coordinator