Diterbitkan pada | Senin, 19 Oktober 2026
Ketika opini Reza Rahadian menghiasi halaman Kompas,
kita diajak untuk melihat deretan argumen. Di balik ketajaman baris kalimatnya
tentang potret pendidikan nasional, ada jejak jalanan pelosok nusantara yang
melekat pada ingatan sang aktor.
Selama bertahun-tahun (sejak 2016) bekerja sebagai Duta
Persahabatan YAPPIKA-ActionAid, Reza telah menyaksikan sendiri bagaimana mimpi
anak-anak bangsa sering kali harus bertaruh di bawah atap kelas yang lapuk. Dengan
begitu, opininya bukan sekadar kritik musiman, melainkan sebuah desakan yang
lahir dari kesaksiannya sendiri di berbagai daerah.
Reza Rahadian adalah aktor nasional yang menjadi Duta Persahabatan
(Goodwill Ambassador) YAPPIKA-ActionAid. Baginya, potret kedaruratan
infrastruktur sekolah bukanlah sekadar data di atas tabel statistik, melainkan wujud
nyata yang ia saksikan sendiri di berbagai daerah wilayah kerja YAPPIKA.
Di depan papan tulis SD Inpres Bala di Bima, NTB, ia pernah mencoba
mengajar di sebuah ruang kelas yang terpaksa dibagi dua tanpa sekat, yaitu
untuk kelas III dan IV. Di sana, konsentrasi belajar murid harus terpecah karena
suara pelajaran dari kelas sebelah saling bersahutan.
Perjalanan mengetuk pintu keadilan ini juga membawa
langkahnya menuju SDN Panyabrangan di Serang, SDN Cipinang 03 dan 02 di Rumpin,
di Bogor, hingga menuju wilayah Kupang untuk memeriksa kondisi prasarana di SDN
Dendeng dan SDN Onitua.
Pola kunjungannya serupa di setiap daerah. Ia datang ke
sekolah, berbincang dengan murid, guru, dan komunitas sekolah, sebelum akhirnya
bertemu pemerintah daerah bersama-sama dengan perwakilan guru dari beberapa
sekolah dampingan YAPPIKA-ActionAid dan mitra setempat.
Pada 7 Agustus 2025, Reza
berkunjung ke Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, bersama
YAPPIKA-ActionAid dan Yayasan YISA. Kunjungan dimulai dengan mengajar di SD
Inpres Bala. Di kelas itu, dua rombongan belajar (kelas 3 dan 4) berada di
dalam satu ruangan tanpa sekat pemisah. Saat Reza mengajar angka-angka
matematika kelas III, suara guru kelas IV yang mengajar Bahasa Indonesia di
sebelahnya ikut terdengar.
Reza juga berdiskusi dengan guru SD Inpres Ntoke, yang
menyampaikan kendala berupa kurangnya pelatihan dan kurikulum yang terus
berganti, mutasi guru dapat terjadi kapan saja karena terkait dengan afiliasi
politik elektoral di Kabupaten Bima. Para orang tua bercerita bahwa kehadiran
siswa menurun saat musim tanam dan akses ke sekolah rawan banjir saat hujan.
Puncak kunjungan di Bima adalah dialog terbuka di Kantor
Bupati Kabupaten Bima. Hadir perwakilan guru, orang tua, komunitas sekolah,
serta Pemerintah Kabupaten Bima yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan
Kebudayaan Pemuda dan Olahraga serta Asisten I Setda. Dialog ini melahirkan
lima komitmen bersama yang ditandatangani:
Pada Mei 2022, Reza juga pernah mengunjungi SDN Palamoko dan
SDN Rajaka di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Keduanya termasuk
sepuluh sekolah dampingan YAPPIKA-ActionAid di wilayah itu saat itu. Reza lalu
menemui Bupati Sumba Barat Yohanis Dade bersama Direktur Eksekutif
YAPPIKA-ActionAid, Fransisca Fitri.
YAPPIKA dan mitra lokalnya, Yayasan Bahtera, mengajukan tiga
rekomendasi: regulasi daerah tentang pendidikan inklusif, anggaran APBD untuk
sarana sekolah ramah disabilitas, dan pelatihan guru SD untuk mendampingi anak
berkebutuhan khusus.
Di SDN Rajaka, Reza melihat ruang kelas yang diperbaiki
Pemerintah Kabupaten Sumba Barat pada 2019 berkat advokasi komunitas sekolah,
Yayasan Bahtera, dan YAPPIKA. Dalam kunjungan itu, sekolah tersebut diresmikan
sebagai Rintisan Sekolah
Inklusif.
Pada 18 Juni 2019, Reza dan tim YAPPIKA-ActionAid juga
pernah mengunjungi dua sekolah di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur: SDN
Dendeng dan SDN Onitua. Di SDN Dendeng, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang,
mereka disambut oleh bangunan beratap seng besi, berlantai tanah dengan banyak
batu kerikil agar tidak licin pada saat hujan, dan berdinding pelepah pohon
gewang yang sudah rapuh dan banyak lubang. Saat itu, dari 2.459 ruang kelas,
hanya 20,9% yang berkondisi baik. Sebanyak 228 kelas (9,3%) rusak sedang dan
575 kelas (23,4%) rusak berat.
Temuan dari SDN Dendeng dibahas langsung dengan Pemerintah
Kabupaten Kupang yang diwakili Wakil Bupati. Reza Rahadian pun mendorong sekolah
yang didampingi YAPPIKA-ActionAid menjadi prioritas.
Sejak 2016, Program
Sekolah Aman YAPPIKA-ActionAid mendampingi 104 sekolah di delapan
kabupaten: Pandeglang, Serang, Bogor, Kupang, Sambas, Sumba Barat, Sumba
Tengah, dan Bima. Hasilnya, lebih dari 17.000 siswa merasakan pemenuhan hak
atas pendidikan dan 209 ruang kelas diperbaiki.
Di Bima, catatan program 2025 menunjukkan komunitas sekolah
terbentuk di delapan sekolah dengan 81 anggota aktif. Sebanyak 81 guru dilatih,
dan siswa yang belum lancar membaca turun dari sekitar 80% menjadi 35. Di
Sumba, Renstra Pendidikan Kabupaten Sumba Barat 2025–2029 menjadikan pendidikan
inklusif menjadi program prioritas daerah.
Semua hasil tersebut dapat terwujud berkat kontribusi banyak
pihak, baik oleh YAPPIKA di mana Reza Rahadian berada di dalamnya, mitra
program setempat, guru, komunitas sekolah, para sahabat perubahan pendukung
YAPPIKA selama ini. Kehadiran sosok Reza di program ini, turut mempercepat dan
memperbesar dampak pencapaian advokasi, mengangkat suara-suara masyarakat yang
selama ini tidak didengar oleh para pengambil kebijakan, menjadi didengar, juga
oleh publik.
Reza Rahadian adalah Goodwill Ambassador YAPPIKA-ActionAid.
Bersama Program Sekolah Aman, ia mengunjungi sekolah rusak di Kabupaten Bogor
(2017), Kupang (2019), Sumba Barat (2022), dan Bima (2025), lalu ikut berdialog
dengan pemerintah daerah setempat.
Dialog publik di Kantor Bupati Bima pada 7 Agustus 2025
menghasilkan lima komitmen bersama yang ditandatangani, antara lain penyusunan
peta jalan perbaikan sekolah dasar dan perbaikan ruang kelas rusak sebagai prioritas
Pemkab Bima untuk SD Inpres Bala dan SDN Teh. Pemerintah Kabupaten Bima juga
berkomitmen tertulis menyusun peta jalan (roadmap) penyelesaian sekolah
rusak.
Program Sekolah Aman adalah inisiatif YAPPIKA-ActionAid
sejak 2016 untuk mewujudkan hak anak atas pendidikan yang aman, inklusif, dan
berkualitas. Hingga kini program ini mendampingi 104 sekolah di delapan
kabupaten, dengan lebih dari 17.000 siswa terbantu dan 209 ruang kelas
diperbaiki.
Melihat potret anak-anak yang terpaksa membagi ruang
konsentrasi belajar mereka dengan rasa cemas adalah alarm darurat bagi masa
depan generasi kita. Pendidikan yang inklusif, sehat, dan bermartabat tidak
akan pernah bisa tegak jika hak dasar anak atas rasa aman di dalam kelas
diabaikan secara menahun.
Rekam jejak gerakan bersama Reza Rahadian membuktikan bahwa
suara warga yang didengar mampu mendesak lahirnya komitmen kebijakan anggaran
daerah yang transparan.
Namun, kerja kemanusiaan di ratusan sekolah pelosok
membutuhkan napas solidaritas yang panjang. Dukungan rutin dari Anda adalah
penggerak bagi para kader lapangan untuk terus mendampingi sekolah di wilayah terdepan,
terluar, tertinggal. Mari ambil bagian dalam perubahan nyata melalui donasi rutin untuk Program Sekolah
Aman. Dengan begitu, Anda menjadi bagian dalam mewujudukan sekolah aman bagi banyak anak di berbagai
daerah.