Bergembira sambil Menangkap Sinyal

Diterbitkan pada | Kamis, 15 Oktober 2026

Bergembira sambil Menangkap Sinyal

Riuh-redam menyelimuti Teater Wahyu Sihombing pada Minggu, 27 September 2026. Perhelatan GembiraFest 2026 mengangkat tema “Civic Space 404: Cari Sinyal Kebebasan” menjadi sebuah ajakan untuk kembali mencari, menangkap, dan menguatkan sinyal kebebasan yang semakin sulit terdengar.

Di tengah riuh itu, Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) turut ambil bagian melalui Pameran “Menangkap Sinyal: Riset, Rupa, dan Rekam Ruang Sipil”. Rangkaian ini menjadi cara KKB membawa riset dan advokasi keluar dari ruang yang biasanya hanya diakses oleh mereka yang sudah mengikuti isu masyarakat sipil. Riset tentang penyempitan ruang sipil diterjemahkan menjadi instalasi, pameran foto, film dokumenter, monolog, hingga zine agar persoalan yang kerap terasa jauh dan abstrak dapat dilihat, dirasakan, dan dibicarakan bersama.


Dari riset menjadi rupa

Terdapat tiga instalasi yang menjadi bagian dari pameran. “Terhimpit Proyek Strategis Nasional” menggambarkan ketimpangan kuasa yang dialami warga ketika ruang hidup berhadapan dengan proyek pembangunan dan aparat. “Penyempitan Ruang Sipil dan Pembatasan Regulasi” menghadirkan ruang seperti sangkar yang merepresentasikan bagaimana regulasi dan kebijakan dapat mempersempit ruang masyarakat untuk bersuara, berkumpul, dan berorganisasi. Sementara “Harapan dan Aspirasi Warga” mengajak pengunjung meninggalkan cerita, pengalaman, dan harapan mereka sendiri. Ada bambu, figur manusia, reruntuhan, sangkar, hingga ruang untuk menuliskan suara sendiri. Pengunjung diajak berhenti sejenak dan bertanya: ruang seperti apa yang sedang kita tinggali dan suara siapa yang masih bisa terdengar di dalamnya?

Ketika cerita warga menjadi suara

Pesan yang sama berlanjut melalui “Batalyon di Tanah Rakyat” yang merekam pengalaman warga Rancapinang, Cimanggu, Pandeglang, Banten, ketika ruang hidup dan sumber penghidupan mereka berhadapan dengan pembangunan batalyon. Film dokumenter dan foto membawa cerita tentang tanah yang menjadi tempat tinggal, sejarah, penghidupan, dan ruang untuk menentukan masa depan.

Cerita tersebut kemudian dihidupkan kembali melalui monolog dengan satu tubuh, satu kursi, dan suara seorang perempuan yang mempertanyakan hilangnya ruang hidupnya.

“Rumahku menjadi terlalu kecil untuk tubuhku sendiri”

Ketika ruang hidup menyempit, rasa aman, pilihan, dan kemampuan untuk menentukan kehidupan sendiri ikut terdesak.

Menuangkan perasaan dan pengalaman

Rangkaian ini kemudian ditutup dengan lokakarya zine “Siap, Izin, Lapor!”. Peserta diajak melihat kembali bagaimana militerisme menyelinap dalam ruang hidup mereka sendiri, baik dalam lakon hidup, cara berpikir, maupun dalam perasaan.

Temuan riset bisa diterjemahkan menjadi karya instalasi. Karya bisa memantik cerita. Cerita bisa diteruskan menjadi monolog, film, atau zine. Pada akhirnya, publik punya ruang untuk menafsirkan dan meninggalkan jejaknya sendiri. Mungkin di situlah tantangan berikutnya: menjahit berbagai bentuk karya dari riset sebagai satu kesatuan yang hidup. Kesatuan yang membuat orang datang, melihat, merasa, berpikir, lalu pulang dengan pertanyaan yang terus mengikuti mereka. Sebab seperti pesan yang dibawa pameran ini, sinyal kebebasan mungkin sedang hilang, namun belum mati. Ia masih bisa dicari, dipancarkan kembali, dan dikuatkan bersama.

Ketika riuh GembiraFest perlahan mereda, “menebar-nebar kebaikan, menebar-nebar harapan” yang dilantunkan Ananda Badudu dan Sasha melalui Ajariku Jadi Berani terasa seperti pengingat bahwa merawat ruang bersama dimulai dari keberanian untuk terus bersuara, terus mendengar, dan terus menebar harapan.

Tag :