Diterbitkan pada | Rabu, 21 Oktober 2026
YAPPIKA-ActionAid
menyelenggarakan kegiatan Kelas Ibu Hamil sebagai sarana belajar kelompok bagi
ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan mengenai perawatan kehamilan,
persalinan, perawatan nifas, pencegahan komplikasi, hingga perawatan bayi baru
lahir agar tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Sebagai
program yang awalnya diinisiasi pemerintah, YAPPIKA-ActionAid hadir memperkuat
pelaksanaan di tingkat desa melalui Program Desa
Sehat. Hal ini
ditujukan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan mencegah stunting sejak
dalam kandungan.
Intervensi
ini menggunakan pendekatan berbasis hak (Human Rights Based Approach/HRBA)
yang menekankan pemberdayaan warga, solidaritas komunitas, kampanye dan
advokasi, serta alternatif layanan yang dapat direplikasi.
Sebagai
organisasi nirlaba yang berfokus pada keadilan pelayanan publik,
YAPPIKA-ActionAid melihat adanya ketimpangan pengetahuan dan keterbatasan akses
jaminan serta layanan kesehatan di tingkat desa. Dengan mengadopsi prinsip Human
Rights Based Approach (HRBA), edukasi ini tidak sekadar memberikan bantuan
teknis, tetapi menjadi ruang penguatan agensi warga secara kolektif untuk
menuntut serta memenuhi hak dasar kesehatan mereka.
Model
intervensi Kelas Ibu Hamil yang melibatkan suami dan keluarga ini telah
dipraktikkan di Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Garut. Di
setiap kabupaten, YAPPIKA-ActionAid bekerja bersama organisasi masyarakat sipil
lokal yang lebih memahami konteks dari wilayah dampingan.
Di Wonosobo, hasil yang terukur di lapangan menunjukkan dampak perubahan yang nyata. Selain sukses mendorong kenaikan jangkauan pemeriksaan rutin ibu hamil hingga menyentuh angka 90%, edukasi kesehatan terintegrasi ini juga berhasil mengubah perilaku dan pengetahuan keluarga. Tercatat sebanyak 37% peserta Kelas Ibu Hamil yang melibatkan suami dan keluarga menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai persiapan dan pasca-persalinan.

Karena
dinilai sebagai percontohan penurunan stunting yang sukses, praktik baik di
Desa Sikunang ini mendapat perhatian nasional dan dikunjungi secara resmi oleh
perwakilan Sekretariat
Wakil Presiden RI pada 14 Februari 2025.
Terobosan ini
dinilai efektif sebagai instrumen penguat support system 1.000 Hari
Pertama Kehidupan, sehingga mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo untuk
mereplikasi model kelas ibu hamil yang melibatkan keluarga ini ke lima
Puskesmas di seluruh kabupaten.
Meskipun
capaian di tingkat desa menunjukkan tren yang sangat positif, tantangan
pemenuhan hak kesehatan semakin sulit. Efisiensi anggaran yang kerap dilakukan
oleh pemerintah daerah berisiko berdampak pada pemotongan dana jaminan
kesehatan dan operasional layanan kesehatan primer.
Menanggapi
hal tersebut, Program Desa Sehat menegaskan sikap organisasi bahwa pemerintah
tidak boleh mengorbankan kualitas dan jangkauan pelayanan publik.
Alokasi
anggaran untuk layanan esensial, seperti pemeriksaan kehamilan, insentif kader
posyandu, pemantauan stunting, dan kelas edukasi berbasis komunitas, harus
tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Pemerintah desa harus didorong menjadi leading
sector dalam mengintegrasikan dana desa untuk keberlanjutan kesehatan ibu
dan anak.
Setiap ibu
hamil yang akhirnya mendapat perawatan yang baik, setiap kader posyandu yang
makin percaya diri memantau kehamilan, dan setiap keluarga yang teredukasi, dimulai
dari kepedulian kita bersama. Perubahan nyata yang telah menyentuh posyandu
desa ini membutuhkan keberlanjutan yang panjang agar kesehatan yang berbasis
pada pencegahan (preventif) di tingkat tapak tidak terputus.
Anda bisa ikut merawat upaya perubahan ini secara nyata dengan bergabung menjadi donatur. Mari ambil peran Anda sekarang juga dengan dukung Program Desa Sehat lewat donasi guna melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan bebas stunting.